Jumat, 02 Desember 2016

Sepeda Nini (to be continued)

Hari ini minggu terakhir liburan akhir semester. Di liburan kali ini, ayah dan ibu berkata ingin membelikan sepeda baru untukku. Sore ini aku diajak ayah untuk pergi ke suatu toko sepeda yang tidak jauh dari rumahku.
“Nin, ayo berangkat.” kata Ayah yang sudah ada di dalam mobil.
“Iya Yah.” aku pun beranjak masuk ke dalam mobil.
 Kami ke sana menggunakan mobil supaya bisa kami bawa sendiri sepadanya nanti. Dalam waktu lima belas menit, kami sudah sampai di sana. Aku dan ayah turun dari mobil sesudah ayah memarkirkan mobilnya. Tokonya tidak terlalu besar. Dari depan toko, aku bisa melihat banyak sepeda berjejer rapi. Dari yang kecil, sedang sampai besar. Ketika kami masuk, pegawai toko menyambut kami sambil tersenyum.
“Kamu mau sepeda yang mana, Nin?” ayah bertanya.
“Aku liat-liat dulu ya, Yah.”
Mataku melihat lihat sekeliling, mencari sepeda yang menarik. Pandanganku berhenti di sebuah  sepeda roda dua berwarna merah muda dengan motif bunga yang cantik sekali.
“Ayah, kalo yang itu gimana?” aku menghampiri ayah yang sedang mengobrol dengan pegawai toko.
 “Oh yang itu? Bagus bagus.”
Ayah melihat ke arah sepeda yang aku tunjuk. Kemudian ayah berkata ke pegawai toko kalau ia ingin membeli sepeda itu. Setelah terjadi tawar menawar antara ayah dan pegawai toko, pegawai tokopun pergi ke suatu ruangan, lalu keluar dengan sebuah kardus berisi sepeda baru yang belum dirakit. Kemudian ia merakitnya, menyatukan bagian-bagian yang terpisah. Lima belas menit kemudian, sepeda baruku sudah selesai dirakit.
 “Ini Dik, sudah kakak rakit sepeda barumu.” pegawai toko membawa sepeda ke arahku sambil tersenyum ramah.
“Terima kasih Kak.” aku ikut tersenyum ke arahnya.
Kemudian ayah dan pegawai toko memasukkan sepeda baruku ke dalam mobil. Setelah itu, aku dan ayah pun masuk ke mobil untuk pulang ke rumah.
“Terima kasih Ayah!” kataku sambil tersenyum lebar.
“Sama-sama sayang. Belajar yang rajin lagi ya..” kata ayah sambil mengusap rambutku.
“Sampai di rumah, aku ingin main sepeda ya yah.”
 “Iya sayang.” A yah mengiyakan
Kami pun akhirnya sampai di rumah. Aku turun dari mobil, Bi Asih membukakan pintu gerbang. Aku melihat ibu sudah menunggu di depan pintu. Setelah memarkirkan mobilnya, ayah mengeluarkan sepeda baruku.
“Wah, cantik ya. Pilihanmu bagus.” komentar ibu setelah melihat sepeda baruku
 “Iya dong, Bu. Hehe”
“Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Udah sore nih.”
“Oke bu! Abis ini aku main sepeda ya!”
Aku pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai, aku pamit dengan ibu dan ayah  untuk main.
“Bu, Yah, aku pergi main sepeda dulu ya. Assalamualaikum.”
Ibu dan Ayah sedang menonton televisi di ruang keluarga.
“Waalaikumussalam. Iya Sayang, jangan jauh-jauh ya, sebelum maghrib udah pulang ya.”
“Iyaa.”
Kemudian aku mencium tangan ayah dan ibu, lalu berjalan menuju teras. Di sana, bi Asih sedang membersihkan jendela.
“Bi, Aku main dulu ya.”
“Iya, hati hati Nin.”
Aku pun mengeluarkan sepeda ku dan mulai mengayuhnya perlahan. Jalanan sore ini ramai seperti biasanya. Banyak pejalan kaki, motor dan bajaj yang lalu lalang. Terkadang juga ada mobil yang lewat. Sebenarnya agak kurang aman memang, untuk ukuran anak sd sepertiku bermain sepeda di tempat ramai ini. Tapi tidak ada jalan lain, jadi mau bagaimana lagi. Bersepeda di gang sempit akan lebih sulit daripada bersepeda di sini. Setelah beberapa kayuhan, aku meminggirkan sepedaku, berhenti. Sebenarnya aku belum punya tujuan ingin kemana.
“Ke rumah caca aja kali ya? Eh tapi janjiannya kan besok bukan sekarang.” aku berkata kepada diriku sendiri.
Akhirnya aku mengayuhkan sepedaku ke arah jalan menuju taman. Kukayuhkan sepedaku lebih kencang agar cepat sampai. Dengan kayuhan sepeda secepat ini, aku bisa merasakan angin berhembus cukup kencang melalui wajahku. Rambutku juga berkibar mengikuti arah angin. Karena taman cukup dekat dengan rumahku, aku bisa sampai di taman dalam waktu sekejap. Taman hari ini cukup lenggang. Tidak seperti minggu kemarin saat aku pergi ke sini bersama ibu. Hari ini hanya ada beberapa pengunjung dan beberapa pedagang yang berjualan. Aku meminggirkan sepedaku ke pinggir taman lalu mengeluarkan botol minum yang kubawa dan meminumnya. Setelah itu aku melanjutkan bersepeda lagi, berkeliling taman. Beberapa menit berlalu. Ketika aku melihat sekeliling, beberapa pedagang sudah menutup tokonya. Aku mengecek jam tanganku, ternyata sudah jam lima tigapuluh. Aku teringat pesan ibu dan ayah untuk pulang sebelum maghrib tiba. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Assalamualaikum Bu, Yah, Nini pulang.” Kataku setelah membuka pintu dan memasuki rumah. Kulihat ibu sedang membaca majalah di ruang tamu.
“Waalaikumsalam Nin. Oh udah pulang kamu. Ohiya nanti siap siap ya. Abis maghrib kita mau makan di luar.” kata ibu sambil menutup majalahnya.
“Wih asik. Oh iya ayah kemana bu?” kataku sambil mencari keberadaan ayah
“Ayah lagi ada urusan sama paman nin.”
“Oh, oke deh.”
Kemudian aku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah itu aku masuk ke kamar ku. Di kamar aku merebahkan diri di kasur dan akhirnya tertidur. Sayup sayup, aku mendengar suara ibu memanggilku.
”Nini, udah siap siap belum?” kata ibu dari luar kamarku.
“Eh? Emang sekarang jam berapa?”
Kulihat jam dinding, ternyata sudah pukul 6.35. Seketika, aku teringat belum sholat maghrib.   
“Belum bu belum. Aku ketiduran.” kataku sembari berjalan keluar kamar.
“Yah, yaudah buruan gih sholat terus siap siap ya.” ibu berkata.
“Iya bu.”
 Aku pun bergegas berwudhu dan melaksanakan sholat maghrib. Setelah itu aku mengganti pakaianku dengan celana jeans dan kaus, setelan yang biasa ku gunakan setiap pergi keluar.
“Ibu, aku udah siap nih.” aku menghampiri ibu yang sedang berada di kamarnya. Kulihat ibu  sedang memoles lipstik di bibirnya.
 “Oke. Tunggu sebentar ya nin.” kata ibu sambil membetulkan kerudungnya.
“Ayo. Ibu sudah siap ini.”
Kami pun akhirnya berangkat ke luar. Berjalan beberapa langkah untuk ke jalanan yang ramai utuk mencegat bajaj. Setelah beberapa menit, bajaj datang. Setelah ibu memberi tahu ke mana kami akan pergi dan sepakat dengan tarifnya, kami naik ke dalam bajaj. Bajaj membawa kami ke sebuah tempat makan steak. Aku, ibu dan ayah terkadang makan di sini. Ketika sudah sampai, ibu membayar bajaj. Kemudian kami pun turun. Tempat makan itu cukup ramai, seperti biasa. Aku dan mama mencari meja yang masih kosong. Kemudian kami duduk di meja itu dan memesan makanan. Aku memesan segelas milkshake stroberi dan seporsi steak ikan. Ibu memesan segelas jus dan makanan yang sama denganku. Setelah menghabiskan makanan kami, kami pun pulang ke rumah.
Saat sampai di rumah, aku melihat jam, ternyata sudah hampir pukul sembilan       
“Pantas saja aku sudah mulai mengantuk.” batinku. Aku pun memutuskan untuk mencuci kaki dan tanganku, lalu gosok gigi, setelah itu sholat isya, dan tidur.

Keesokan harinya, pukul 9 pagi, aku mendengar